Travelling

Lohiatala, Negeri Para Petinju

Carlo Demicillo menelan pel pahit. Petinju asal Filipina tersebut harus bertekuk lutut. Dia kalah pada pertarungan 12 ronde pada kejuaraan tinju kelas bantam super WBA Asia yang digelar di Balai Sarbini Jakarta. Ruben Manakane, lawan tandingnya membuyarkan mimpi Carlo untuk menjadi juara.

Bagi publik pemerhati tinju, Ruben Manakane memiliki tempat khusus. Menjajal kemampuannya di arena tinju profesional, Ruben menoreh prestasi membanggakan. Petinju sekelas Petchnamung Sithsaithong asal Thailand pernah juga di – TKO Ruben. Hasil tanding ini membuat Ruben jadi juara EBC Asia Champion 2017.

Rupanya, petinju profesional marga Manakane bukan hanya seorang Ruben. Ada sederetan nama lain yang mengharumkan nama Indonesia di laga tinju profesional dunia. Sebutlah diantaranya Noldi Manakane. Noldi mengikuti ajang tinju dunia kelas WBA di Jepang. Lawan tandingnya, petinju papan atas jepang, Kiko Kameda.

Noldy memegang rekor 18 kaki menang KO, Noldi adalah pemegang sabuk Nasional empat badan tinju nasional. Dia juga mempertahankan prestasi juara internasional PABA selama 5 kali. Baik menang KO maupun TKO.

‘Ruben dan Noldy adalah anak – anak muda kebanggaan negeri Lohiatala”, sebut Hermanus Manakane, Raja Lohiatala SBB. Ruben dan Noldy adalah saudara dekat Raja Negeri Lohiatala. Mereka berdua sepupu dengan bapak raja.

Kemarin (Senin, 4/3), saya mampir di desa tersebut. Memasuki desa Lohiatala Kecamatan Kairatu Barat SBB, kita akan disambut dengan gerbang megah. Wajah negeri Lotal, demikian sapaan bagi negeri Lohiatala, banyak berubah positif. Sentuhan Raja Lohiatala membangun negerinya nampak jelas. Wajar jika Lotal menjadi salah satu desa model di SBB.

Walau posisinya jauh dari akses jalan raya, Lohiatala memiliki kekhasan yang tidak ditemukan pada negeri manapun di Propinsi Maluku. Satu – satunya di Lotal ada Sasana Tinju yang dibangun secara swadaya. ‘Anak – anak Lohiatala membawa DNA sebagai petinju. Olahraga ini digandrungi di sini’, terang Bapak Raja.

Di Sasana Tinju Lotal, puluhan orang berlatih rutin. Ada yang masih SD, usia 8 tahun hingga usia dewasa. Mereka cukup tekun. Tak hanya laki – laki, diantara mereka, sejumlah binaan perempuan tergabung latihan di Sasana Tinju Lotal.

Sasana tinju Lohiatala yang diinisiasi sejak tahun 1988, walau sederhana namun memproduk petinju potensial. Pada ajang POPDA – Pekan Olahraga Pelajar Daerah Tingkat Propinsi Maluku, negeri Lotal selalu menyumbangkan anak – anak mudanya mewakili SBB di cabang tinju. Dan hasilnya, selalu juara. “Saya pernah ikut POPMAL untuk cabang tinju”, Sefian Soplatu yang duduk di samping saya, menimpali. Tak sampai di situ, anak – anak binaan Sasana Tinju Lohiatala juga mencetak prestasi pada kejuaraan Tinju Kapolda Cup 2017.

Jika negeri Tulehu adalah negerinya para pesepakbola, maka Negeri Lotal, adalah negerinya para Petinju. Bagi saya, mungkin ini satu – satunya di Propinsi Maluku. Model ini adalah bentuk Inovasi desa yang bernilai beda. Tak hanya menjadi hobby, namun memberi kontribusi prestasi bagi daerah. “Kami butuh sentuhan untuk mengembangkan sasana”, kata Raja Lotal. (*MSM*)