Inspirasi

Beta Mau Jadi Polisi

Seteguk Capuchino yang ingin saya seruput, tertahan. Bocah 8 tahun mendekat. Di tangannya ada 2 buah koran Berita Kota. Wajahnya agak tak terurus. Dia memandang saya : ‘Om, beli koran’, katanya memelas.

Kelabat wajahnya membawa fikiran seketika ke rumah. Fikiran terhadap anak – anak saya. Sekarang, jam 22.30 WIT. Mereka telah pulas. Putri saya, Azka seperti biasa selalu mengisap jempolnya jelang tidur. Sambil mendekap bantal guling biru favoritnya. Atau kakaknya, Daffa, pasti sedang menarik selimut lalu menendangnya keluar. Kebiasaan ketika akan tidur. Jika mereka telah lelap, ada sumringah di wajah, karna bermimpi indah.

‘Om, beli koran’, dia menegaskan ulang. Sambil menaikan tensi suara. Wajahnya tertunduk dengan kantuk yang tertahan. Sabtu malam ini, jam 22.30 WIT, dia masih berada di kafe ini. Menjual koran.

‘Ke sini. Duduk di samping om’, ajak Saya.
“Kenapa belum pulang? Sekarang sudah jam 10.30 malam’, selidik saya.
‘Koran belum laku. Nanti laku baru pulang’, balasnya.

Saya tanya : ‘Adik nama sapa?’. Tio Om, jawabnya. ‘Malam – malam begini bapak seng cari kah tio?’, tanya Saya.
‘Bapak sekarang lagi bawa becak. Cari uang’, sambungnya.

‘Buat apa jual koran Tio?’, tanya saya perlahan sambil menyapu kepalanya. ‘Kalau laku, buat beli beras’, jawabnya singkat.

Bocah kelas 2 SD Al Hilal ini berkisah jika tak hanya dia yang jualan koran, tapi kakak perempuannya (Kelas 3 SD) juga melakukan hal serupa. Beban hidup membuat keriangan bermain di usia belia tergerus oleh tanggung jawab mencari sesuap nasi. Menarik becak yang dilakoni ayahnya, tak cukup untuk menghidupi Tio dan 2 saudaranya.

Raditio, demikian nama panjangnya memberi sisi makna yang berbeda. Menyentuh sekaligus menginspirasi. Menyentuh karena lakon demikian tak seharusnya dia jalani. Seusianya, seharusnya sedang terlelap dalam dekapan hangat di rumah. Namun, malam ini tangan mungilnya masih mendekap koran yang belum laku.

Tio juga menginspirasi. Bagi saya, sisi seperti Tio selalu memiliki nilai lebih dibanding bocah lainnya. Mereka mandiri dan lebih cepat matang. Daya tarung hidup yang membentuk mereka demikian. Maka, ketika saya tanya cita – cita, dia sigap menjawab : ‘Beta mau jadi POLISI’, katanya dengan melepas senyum.

Sabtu malam itu saya bisik – bisik Tio : ‘Taruh koran, tio minum jus alpukat deng makan pulut seram ee’. Dia mengangguk tersipu. Karna tak habis dilahap, tio membungkusnya untuk dibawa pulang.

Selembar rupiah saya masukan dalam sakunya : ‘Om bayar korannya, buat tambah beli beras eee’. Tio mencium tangan lalu pamit. Memandangnya ketika menjauh, ada doa yang menemani langkahnya. Semoga kelak citanya menjadi polisi terkabul. Proud of you, Tio. (*MSM*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *