Kabar Negeri

Beta Nama Abi

‘Beta nama ABI’, jawaban muncul dari bocah ini ketika Saya tanya. Tangannya lincah mengisi angin pada ban mobil yang kempes.

Si merah bannya tak bisa puasa. Harus ‘makan’ angin pagi ini. Mampirlah saya di bengkel ini. Eh, si ABI yang muncul dengan alat pengisi angin.

‘Kelas berapa?’, saya memancing kedekatan. ‘Kelas 4. Sekarang ada libur’. Matanya konsen di ban mobil yg sedang digarap.

‘Puasa ka seng?’, lanjut saya. ‘Seng puasa. Barang seng makang saor. Bangun terlambat’, sambar ABI sekenanya. Saya tersenyum. Alasan paling sederhana untuk tak puasa : Seng makang sahur 😁.

Anak – anak seusia ABI pagi ini lagi bermain. Beberapa mungkin lagi terlelap. Liburan puasa membuat mereka banyak di rumah. Tapi ABI mencoba mandiri dengan membantu di bengkel kecil ini.

Saat tak libur, ABI membantu setelah sepulang sekolah. Kala libur, hingga sore di bengkel. ‘Dikasih jajan Rp 20ribu setiap hari’, sela seorang pekerja bengkel di sebelahnya. Cukup besar untuk anak seusianya.

Kemandirian memang tak akan datang sendiri. Dia mewujud dengan penempaan sejak dini. Model seperti ABI akan membentuk dirinya menjadi kuat. Mendidik anak menjadi mandiri untuk urusan remeh-temeh saja butuh ketelatenan. Juga sabar. Tapi ABI telah mengalami lompatan kematangan hebat.

‘Cita – cita?’, jawabannya senyuman. ‘Moga sukses ABI. Tapi jangan cita – cita jadi Presiden. Presiden itu hanya satu. Dan itu berat. Biar orang lain saja’. 😁