Kabar Negeri

Ketika Imam Kampung Berangkat Umroh

“Ini buat Pak Suhfi”. Botol kecil air merek Nestle 600 ml diletakannya di atas meja. Tangannya sedikit gemetar. “Beta mohon maaf, tidak membawa oleh-oleh apapun. Hanya satu botol air zam-zam ini”, katanya.Saya menerima botol berisi air zam-zam tersebut. Lalu berdiri, memeluk laki2 sepuh ini. Memeluknya dengan hangat. Tiba-tiba matanya memerah. Suaranya parau. Ada keharuan yang bersemayam. “Terima kasih”, ungkapnya singkat dengan suara lirih.

Lelaki itu, Usman Souwakil. Usianya terbilang tua. 68 Tahun. Modim Masjid Negeri Elara Pulau Ambalau kab buru selatan tadi pagi datang ke rumah. Pamit karena akan kembali ke Pulau Ambalau. “Kalau Pak Suhfi seng sibuk, beta minta Pak Suhfi antar ke Ambalau’, pintanya. Saya mengatakan kepadanya jika tidak memungkinkan untuk mengantar. Karena penuhnya agenda minggu ini.

Dengan berbinar, meluncurlah ungkapan kesyukuran dan cerita-cerita mengharukan saat kunjungan umroh. Sebagai orang kampung, menjejak Mekkah dan Madinah adalah kemuliaan. Ketiadaan akses menjadikan umroh gratis merupakan barang mahal dan langka. Maka tak henti mulutnya mengucapkan syukur atas keberangkatannya.

Berkah berumroh adalah buah dari pengabdiaan bertahun – tahun sebagai modim. Sebagaimana para imam dan modim lainnya, mereka memberi dedikasi dengan ikhlas tanpa batas. Jangan tanya tentang gaji atau sejenisnya. Itu barang mewah. Cita mereka sederhana, jiwa ikhlas memakmurkan masjid.

Nun di Negeri Sukaraja Taniwel Timur, Jumat lalu seisi penduduk negeri itu juga menyambut hangat. Dengan sholawat dan beriringan kendaraan, mereka juga menyambut kepulangan umroh Imam Masjid Sukaraja, Abu Bakar Sitania. Beliau serombongan dengan Usman Souwakil.

Di Sukaraja, saya telah menyanggupi sebelumnya untuk ikut mengantar beliau kembali berkumpul dengan keluarganya. Namun kesertaan ke Sukaraja batal karena ada acara mendadak lainnya.

Saya ingat, sebelum berangkat ke Mekkah dan Madinah, Pak Abu Bakar Sitania juga datang ke rumah. Beliau sesunggukan. Tangisnya tak berhenti ketika memeluk saya. Ungkap kesyukuran tak berhingga. “Terima kasih Pak Suhfi”, bisiknya waktu itu. Saya juga terbawa haru serupa.

Usman Souwakil dan Abu Bakar Sitania adalah dua diantara ratusan imam/modim/guru TPQ yang berangkat umroh dengan biaya APBD Propinsi Maluku lewat Biro Kesra tahun 2018.

Program ini telah berjalan sejak tahun 2015. Maka keberangkatan April lalu adalah yang ke 4 kalinya. Jika rata-rata 100 orang Imam/modim/Guru TPQ yang berangkat setiap tahun, maka Pemprov telah memberangkatkan 400 orang imam/modim se-Maluku. Didanai APBD Maluku. Tahun 2018, sejumlah 124 orang yang berumroh gratis. Program kunjungan spiritual demikian juga untuk para pendeta.

Bagi para Imam/Modim dari kampung-kampung, berumroh gratis adalah barang mewah. Dengan ekonomi yang terbatas, rasanya tidak memungkinkan untuk mereka berangkat dengan biaya sendiri.

Maka, program ini adalah apresiasi dan bentuk kecintaan Pemprov dan Gubernur Said Assagaff atas dedikasi dan pengabdian ikhlas mereka. Kita doakan agar mereka semakin semangat mereka mengabdi memakmurkan masjid sepulang umroh.

Harapan lain, program umroh dan perjalanan spiritual tetap dialokasikan pada tahun-tahun mendatang. Terima kasih Pak Gubernur, Said Assagaff. (*MSM*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *